Hadi Abdul Salam dalam pangkuan sang Bunda (ist)

PRINGSEWU24 - Balita berusia 4 tahun bernama lengkap Hadi Abdul Salam, anak pertama pasangan Romlan(37) dan Maryati(28) warga pekon Pringombo III Kecamatan Pringsewu Kabupaten Pringsewu, menderita penyakit hydrocephalus atau pembesaran kepala sejak lahir .
Kondisi yang sangat memprihatinkan di derita pada balita ini, bahkan sudah diketahui sejak dalam kandungan melalui pemeriksaan USG disalah satu Rumah sakit setempat. Kepala membesar dan sering menangis dirasakan balita berjenis kelamin laki-laki ini.
Maryati ibunda Hadi mengatakan bahwa putranya sudah menjalani oprasi sebanyak 7 kali pada bagian kepala, sehingga pada bagian leher balita ini, terdapat selang kecil yang berfungsi untuk mengontrol kelebihan cairan di dalam kepala. Penyakit yang seharusnya diperiksa tiap bebera bulan sekali, akan tetapi orangtua Hadi lebih memilih hanya berobat saat terjadi gangguan kesehatan putranya.
Saat ini pihak keluarga mengaku kesulitan apabila harus rutin ke dokter atau ke rumah sakit tiap beberapa bulan sekali, untuk melakukan pengecekan penyakit yang diderita buah hatinya.
Untuk biaya pengobatan, sempat mematahkan semangat kedua orangtua Hadi karena himpitan ekonomi yang dirasakan. Alih-alih mendapatkan jaminan kesehatan sosial gratis dari pemerintah melalui program Badan Pelayanan Jaminan Kesehatan (BPJS) Kesehatan pun nyatanya tidak bisa ia manfaatkan.
Kewajiban membayar angsuran dirasanya tidak mungkin untuk berobat menggunakan BPJS, karena ansuran yang sudah berjalan beberapa bulan ini tak terbayarkan. "Pernah membuat BPJS, kalau ga salah bulan Agustus 2015 lalu, tapi belum pernah digunakan. Ya kami akui karena memang ada tunggakan sekitar Rp1,3 juta," ungkap Martini.
Martini hanya pasrah pada saat melihat buah hatinya merintih kesakitan di pangkuannya. Sekitar tujuh bulan lalu, lanjut Martini menceritakan bahwa sang anak sempat mengalami kejang-kejang serta demam. Secara bersamaan, di kelopak mata sebelah kiri sang anak keluar cairan beserta darah. Akibat penyakit yang dideritanya itu, kini retina mata kiri Hadi terdapat benjolan kecil seperti daging tumbuh.
Saat itu, niat untuk segera membawa sang anak berobat ke rumah sakit pun ia urungkan karena kendala biaya. Akhirnya ia bersama suami memutuskan melakukan pengobatan sendiri bagi kesembuhan sang anak, ini mereka lakukan hingga saat ini.
Kini ia berharap, pemerintah dapat memfasilitasi buah hatinya untuk melakukan pengobatan demi kesembuhan anak semata wayangnya itu. "Kami sebagai orang tua hanya bisa berharap dan berdoa agar bisa diberikan kemudahan untuk berobat, semoga anak kami bisa normal seperti anak-anak yang lain pada umunya," harap Martini.
Keluarga balita Hadi yang hidup jauh dari cukup tersebut sangat membutuhkan uluran tangan para dermawan untuk membantu mengobati putranya.
(Citizen Journalist - Muhammad Mustafid)
 
Top