Arpho Riheru saat digelandang oleh petugas Cabjari Tanggamus di Pringsewu. (Foto ist) 

PRINGSEWU -  Arpho Riheru (54)  Kasubsi pada Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) kabupaten Pringsewu secara resmi ditahan di Cabang Kejaksaan Negeri Tanggamus di Pringsewu, Senin (17/4) siang. ‎

Tersangka Arpho di tahan atas dugaan tindak pidana korupsi proyek pembangunan Ruang Terbuka hijau (RTH)  yang berada di pekon Tulungagung, kecamatan Gadingrejo pada tahun 2014 dan 2015.‎

Akibat perbuatan tersangka Arpho  itu langsung dimasukkan ke mobil tahanan Kejaksaan, Senin (17/4) sekitar pukul 01.00 WIB untuk selanjutnya dibawa ke Rutan Kota Agung.‎

‎Kacabjari Tanggamus di Pringsewu, Rolando Ritonga SH, MH. mengatakan penyidik Kejaksaan melakukan upaya penahan secara paksa terhadap tersangka Arpho Riheru dalam proyek pembangunan RTH tahun 2014 dan 2015 dengan jumlah anggaran sekitar Rp 490 juta untuk mengantisipasi adanya upaya menghilangkan barang bukti.‎

"Untuk ‎pidana korupsinya berdasarkan perhitungan kerugian negara kurang lebih hampir Rp 150 juta yang dilakukan tersangka dan teman-temannya. Tersangka ini kedepan akan ditahan di Rutan Kotagung untuk jangka waktu selama 20 hari dan kemungkinan juga di perpanjang selama 40 hari,"ungkap Rolando. 

Dijelaskan Rolando, kemungkinkan ada keterlibatan tersangka lain dalam tindak pidana korupsi  proyek pembangunan RTH.

"‎Tersangka lain pasti ada. Tapi, kami tidak bisa menyebutkan disini. Karena proses penyidikan tersangka ini sudah lama mulai bulan Juni 2016. Dalam hal penanganan korupsi ini tidak mudah. Karena, ada pihak-pihak yang terlibat misalnya dari BPK, tim ahli supaya data valid dalam penyidikan kita nantinya tidak kalah di persidangan,"ujarnya.

‎Menurut dia, bahwa keterlibatan tersangka Arpho ‎ berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS)‎ ‎ ‎sewaktu menjabat sebagai Kasubsi pada Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) yang juga sekaligus menjabat Penjabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam proyek pembangunan RTH tahun 2014 dan 2015.

"Untuk rekanan kita nggak bisa menyebutkan masih dalam ‎penyidikan. Kalau modus tersangka menunjukan rekanan yang masih teman-teman dia yang sudah jenglian (berkerjasama) satu pasangan untuk korupsi. Yang pasti hasil pekerjaan pembangunan mereka dibawah under spesifikasi,"kata Rolando. ‎

Ditambahkan Rolando, bahwa penetapan tersangka Arpho dalam tindak pidana korupsi proyek pembangunan RTH sudah dilakukan sekitar  bulan Januari 2017 lalu.

‎"Untuk tersangka ini akan kita ancam pasal 2 Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dengan ancaman penjara minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun,"tandasnya. 
 
Top